HaPpY nEw yEaR 2009

Wednesday, December 24, 2008

we never known thats the days pased everyday. When the imagine can't realize, when the reality throw up a life, n when we must change scedule everytime, I never think that all has pased a way. we make a new years is a new comitmen. Thats theres no ones can take a succes without scrifice. Cz thats the golden rules of life. Never repait a last mistake in the future. Cz thats can kill us in the way to the futuru. I can't mensions the problem I can see tomorrow. N I never known what i can get tomorrow. We never thwrow all off yesterday, cz that is the best performent to come'n tomorrow.
2009 is a big years on me. I heve any scedule where i want to realize into it. N i heve some purpuse to make all of come true. I hope is so well. I do know, cz i think my life now n yesterday is not the real life. So, i want my real life come in this year. I dont want to take a dream everytime. In a longtime i am dreaming. The time now n tomorrow is how to build a dreaming on me.
Not the life is wrong, but my soul out off me. I wanna take my soul to wake behind me. pliz God come back it. wanna make my mom proud off me. N God loves off me. Amin,,,
is a commitment that an individual makes to a project or the reforming of a habit, often a lifestyle change that is generally interpreted as advantageous. The name comes from the fact that these commitments normally go into effect on New Year's Day and remain until fulfilled or abandoned. More socio-centric examples include resolutions to donate to the poor more often, to become more assertive, or to become more economically or environmentally responsible. People may act similarly during the Christian fasting period of Lent, though the motive behind this holiday is more of sacrifice than of responsibility. The new year resolution is one example of the rolling forecast-method of planning. According to this method, plans are established at regular short or medium-term time intervals, when only a rough long-term plan exists.
There are religious parallels to this secular tradition. For example, in Judaism's holiest holiday, Yom Kippur, one is to reflect upon one's wrongdoings over the year and both seek and offer forgiveness. The concept, regardless of creed, is to reflect upon self-improvement annually.
A nEw yEaR wiTh a nEw pErf0RmeNce,,,HaPpY nEw YeAr 2009..m4kE liFe c0mE tRue,,,Aminn

Bara, Nada, Rokok dan Fashion

Sunday, December 21, 2008


Langit mendung semendung hatiku. Terus kuberjalan menelusuri lorong labirin yang aku sendiri tak tahu sampai di mana akhirnya. Tatapan sinis makhluk-makhluk berantakan dengan wajah bringas dan menakutkan selalu menghantui. Tak jarang kudapati sosok seperti mereka di sepanjang perjalanan ini. Ada tiga jalan terbentang di depan mata. Aku lebih memilih jalan lurus daripada berbelok. Biarkan aku terus mencari akhir dari lorong-lorong lusuh berdebu sekalipun aku sendiri tahu, dengan berbelok akan ada jawaban di sana.
Pikiranku terbawa menelusuri kejadian beberapa tahun silam. Di tempat ini. Di lorong-lorong busuk menyeramkan ini. Ku dapati segerombolan makhluk yang aku tak tahu darimana asalnya. Wajah menyeramkan dengan baju dan celana serba hitam. Sedikit goresan bekas luka di wajah dan tangannya, yang aku yakini sebagai pentolan mereka. Karena keberadaanku mereka tersentak kaget dan menghentikan negosiasi barang-barang haramnya. Tatapanku sinis. Ada rasa kesal dan membuncah dalam diri. Ternyata masih ada orang seperti mereka di negeri kelahiran nabi-nabi ini. Harus kembali ku temui segerombolan anak muda yang lebih tepatnya hanya perusak bangsa daripada generasi muda bangsa. Terus ku perhatikan mereka dengan tatapan yang menantang. Mungkin mereka kesal ada seorang ajnabi[1] seperti aku. Satu kosong, karena aku tahu mereka tidak akan mengejarku. Dengan aksi mereka yang tertangkap basah olehku, apa masih sanggup mereka mengejarku? Kalau akhir urusannya dengan polisi mereka juga yang susah. Sekarang ini tersimpan serbuk-serbuk laknat di kantong jaket dan celana mereka.
Tidak begitu banyak manusia berlalu-lalang, hanya beberapa gerombolan yang hidupnya memang di waktu malam. Malam sudah menunjukkan lebih dari sepertiganya. Di musim dingin seperti saat ini, siapapun akan memilih terlelap dalam selimut tebalnya daripada berlalu lalang di luar. Udara di luar lumayan dingin sekitar 18 derajat, dan di malam yang semalam sekarang ia akan terlihat berasap seakan berupa kepulan kabut tebal.
Jarak satu meter kembali ada belokan, tiba-tiba melintas seorang wanita dengan perawakan dan penampilan Asia. Siapakah ia? Malam yang bagi laki-laki saja sangat berbahaya apalagi wanita? Ku potong jalannya melingkar, hingga aku bisa mendahuluinya.
“Nada.” Pekikku.
Ternyata ia istriku. Dia yang ku tinggalkan tadi karena menolak melayaniku. Aku yang memilih pergi berjalan menelusuri bangunan yang tersususn laksana kerdus. Dan dia. Aku tak tahu kemana dan dari mana dia dan apa yang dia kerjakan.
Dia tak menghiraukan panggilanku. Dia melenggeng pergi berlalu seakan tanpa beban.
“Apa pantas seorang istri keluyuran malam tanpa suami?”
Sekali lagi tak dia hiraukan teriakanku. Langkah kakinya cepat tapi gontai. Seakan tak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya.
Aku menariknya paksa. Dia menepis tarikan tanganku. Tak sengaja aku menamparnya. Ia, aku menampar istriku sendiri yang sudah bertahun-tahun menemaniku. Tapi yang lebih kaget. Ia tetap terdiam tanpa ekspresi. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?
Ku biarkan ia pergi. Kami memilih jalan masing-masing.
Lelah kuperhatikan jalanan. Penat di badan semakin menyengat. Tak terasa tiga bungkus rokok A mild dan sebotol wiski kecil lenyap di tanganku. Ku belokkan kaki ke arah rumah. Ingin ku baringkan badan. Tapi tiba-tiba di depanku, kudapati sosok Nada lagi. Akan tetapi dengan pakaian yang berbeda. Ku cegah ia kembali dengan jalan memutar seperti semula.
“Nada.” Pekikku semakin keras.
Tetap tak dia hiraukan. Jalannya semakin cepat setengah berlari. Ku hampiri dia. Ku tarik tangannya. Ia menepisku kuat. Melihatku sesaat, kemudian berlari kencang. Kesusahan untuk aku mengejarnya. Ku biarkan ia. Jarak rumahku semakin dekat. Kemarahanku pada Nada istriku memuncak di ubun-ubun. Kesusahan aku mencari kunci rumah. Dan kesusahan pula aku membukanya.
“Aaghh.” Teriakku setelah menutup pintu kembali.
“Nada, di mana kau? Aku terus berteriak dengan gontai dan langkah seakan terseok terus mencarinya. Aku mendapati tubuhnya terbangun setelah aku terjatuh di sampingnya. Lamat-lamat ku dengar ia memanggilku. Dan aku sudah terbang bersama peri-peri cantik titisan syurga.
Pagi telah pergi meninggalkan manusia yang masih bermalasan sepertiku. Eloknya embun dan segarnya udara pagi tak bisa ku rasakan. Sebenarnya, Tuhan begitu agung menciptakan kesejukan pagi. Tapi, bagi manusia sepertiku akan lebih enak terlelap daripada merasakan keagungan Tuhan. Badanku lemas. Kepalaku pusing. Kesusahan bagiku untuk sekedar duduk terbangun. Kembali kuterka peristiwa semalam sebelum aku bercengkrama bersama peri-peri kecil itu. Iya. Ada yang hilang sekarang. Ada yang kurang bagiku. Setiap aku terbangun, aku berharap ia di sampingku. Atau ia mengucapkan selamat pagi atau siang untukku. Atau ia menyediakan sarapan yang lebih tepatnya makan siang buatku. Iya. Nada hilang dari sisiku. Iya pergi meninggalkanku yang masih lusuh dan kumal. Kemana dia?
Aku memilih untuk tetap berbaring dan menunggunya di tempat tidur. Jarum jam terus bergulir. Hari sudah hampir menginjak sore. Dan sebentar lagi malampun akan menyelimuti. Badanku tetap lemas. Mungkin ini akibat alkohol di campur rokok. Alkohol yang sebelumnya belum pernah aku konsumsi. Dan semalam, aku menghabiskan sebotol minuman haram itu. Efeknya benar-benar menggangguku. Membunuh aktifitas seharianku. Lambat laun ku coba terbangun dan melangkah. Namun terasa berat.
“Any body home?”
“Hwahwahwa.” Ketawa mereka menggelegar bersamaan.
Siapa mereka? Aku mencoba menerka siapa yang bersama Nada. Dan aku kembali menerka apa yang terjadi di luar sana.
Kemarahanku memuncak padanya. Tidakkah dia merasa memiliki aku suaminya? Ingin aku berlari memarahinya. Tapi badanku masih lemas. Tiba-tiba pintu tertutup dengan kencangnya layaknya di terpa angin topan.
Mataku beradu dengan matanya. Seulas senyum yang terbingkis dari bibirnya berubah masam. Begitupun aku yang begitu geram menatapnya.
“Dari mana kamu?” tanyaku dengan teriakan sinis padanya
“Biasa shoping.” Jawabnya tanpa beban.
“Shoping? Istri seperti apa yang membiarkan suaminya terkapar di rumah? Aku membantahnya tambah geram.
Dia hanya bolak-balik sambil mencoba beberapa jenis pakaian dan aksesoris yang baru dia beli. Ingin rasanya aku berlari dan membuang semua barang-barang belanjaan dia. Tapi ku tak mampu. Aku hanya berteriak sambil berbaring. Berharap dia mengerti akan kondisiku.
“Nada.” Pekikku tambah keras.
Tiba-tiba dia mendekat menghampiri tempatku berbaring.
“Suami macam apa kamu? Suami yang setiap istrinya menolak bercinta selalu pergi dengan menghabiskan berbungkus-bungkus rokok. Bahkan mabuk seperti semalam. Suami yang tidak memikirkan bahaya istri mengisap asap rokok setiap hari. Setelah bercinta kamu lebih memilih langsung merokok tanpa berpikir menemaniku, menyayangiku. Suami yang tak jarang melakukan kekerasan bila hasratnya tertahan. Sejak kapan kamu menelan minuman haram?” Cerocosnya tanpa henti.
“Suami yang hanya mementingkan nafsu sendiri tanpa memikirkan tugas dan tanggung jawabnya? Suami yang lebih memilih bermalas-malasan merokok seharian tanpa berusaha menghidupi keluarga. Aku menamparnya sebelum dia melanjutkan kata-katanya.
Berkali-kali aku menamparnya. Nada hanya menangis dan terdiam. Lalu pergi. Dengan sisa kekuatan yang ada aku mengejarnya. Menyeretnya kembali ke kamar. Membantingnya ke atas kasur. Dia tambah marah seakan nyeracau. Ingin aku kembali menamparnya. Tapi aku tak sampai hati terus menyakitinya. Lama-lama aku terdiam. Mungkin Nada ada benarnya. Dan sebenarnya aku juga kecewa terhadapnya. Dia bisa lupa akan wujudku kalau sedang shoping baju-baju model baru bersama teman-temannya. Tapi aku juga tidak boleh terlalu keras padanya. Ku pandangi Nada yang masih menangis dan berhenti dari makiannya. Dia menatapku. Dengan cepat kulayangkan ciuman tepat di bibirnya sebagai ungkapan maaf atas kesalahan-kesalahanku.




[1] Sebuah ungkapan bagi orang-orang non Kairo.

Filsafat: Antara Disiplin Ilmu dan Pola Pikir

Thursday, December 4, 2008

Prolog

Perjalanan hidup manusia layaknya sebuah kapal yang akan selalu berbenturan dengan realita. Tak jarang realita tersebut membutuhkan banyak energi sehingga memaksa kita untuk terus bertahan di tengah-tengah badai. Badai dan ombak senantiasa menemani langkah perjalanan kehidupan. Oleh karena pentingnya ilmu pengetahuan sebagai penuntun bagi manusia agar tidak buta menghadapi kerasnya hidup.

Kalau ditinjau dari segi gramatikalnya, maka filsafat itu merupakan disiplin ilmu yang telah ada dan berkembang mulai manusia mengenal Tuhan. Karena maksud dari filsafat itu sendiri bisa diartikan sebagai cara atau alat dalam mengenal Tuhan. Sekalipun di sana Ibnu Arabi mengartikan filsafat sebagai ilmu atau jalan untuk lebih mengenal Tuhan dari bentuk yang nyata( wujud), sedangkan ilmu kalam menurutnya merupakan jalan untuk mengenal Tuhan dari segala segi yaitu sifat-sifat Tuhan secara mendalam. Itulah pernyataan Ibnu Arabi ketika dia mengkorelasikan antara ilmu kalam dan filsafat.

Jadi, jika memaknai filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu, maka hukum mempelajarinya adalah wajib sebagaimana ilmu-ilmu yang lain. Akan tetapi jika memaknai filsafat sebagai sebuah bentuk pola pikir, maka dalam mempelajarinya harus bisa memilah dan memilih serta mengkondisikan dengan nilai keimanan yang ada. Karena pola pikir lebih mengedepankan logika akal daripada teks al-Quran atau hadis.

Sebagaimana Mu’tazilah yang menganggap bahwa tidak perlu ada nabi dan rosul sebagai utusan Tuhan kepada manusianya, dikarenakan ia memakai akal sebagai inti dari semua perbuatan. Bagi Mu’tazilah akal sangatlah cukup dalam menuntun perjalanan manusia. Jika bagi akal baik maka hal itu akan pasti ditinggalkan. Dan jika bertentangan dengan akal maka barang tentu akan menolaknya. Jadi apa arti seorang utusan jika akal bisa mengorder semuanya.[1] Begitu pulalah Mu’tazilah menganggap filsafat sebagai cara kerja akal dalam memahami keesaan Tuhannya

Kenapa penulis menyandingkan antara filsafat sebagai disiplin ilmu dengan filsafat sebagai pola pikir? Karena dari sanalah mungkin kita mengenal dan mendengar tentang filsafat. Filsafat sebagai disiplin ilmu dikarenakan ajarannya yang menyuruh kita untuk berpikir lebih dalam tentang Tuhan itu sendiri yang merupakan wihdatul wujud, dan ilmu filsafat tersebut erat kaitannya dengan ilmu tauhid. Yang mana cukup jelas bagi kita bahwasanya tauhid merupakan sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang keesaan Tuhan dan keimanan kepadanya. Dari sini sudah cukup jelas bahwasanya filsafat sebagai disiplin ilmu tidak perlu lagi diperdebatkan, karena ilmu yang mengarah pada pembentukan keimanan dan penguatan hati merupakan ilmu yang menuntun kita untuk lebih memaknai kehidupan dunia yang fana menuju akhirat yang
kekal.

Akan tetapi kalau kita memantau, memperhatikan dan bahkan menyimpulkan bahwasanya filsafat sebagai pola pikir. Dalam hal ini mempelajari apalagi mendalaminya diharapkan disesuaikan dengan kemampuan daya pikir dan tingkat pendekatan diri pada-Nya. Karena banyak kelompok yang memiringkan makna filsafat itu sendiri sebagai sebuah disiplin ilmu yang membawa kita lebih dekat kepada sang kholiq.

Dalam makalah kali ini penulis akan memaparkan perbandingan filsafat Islam klasik dengan kontemporer. Yang mana filsafat Islam klasik merupakan sejarah awal perjalanan filsafat Islam, yang darinya ia sempat menjadikan Islam sebagai kiblat keilmuan dalam bidangnya, yaitu pada masa keemasan filsafat Islam klasik pada masa mulai dari al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina.

Filsafat pada masa Islam merupakan filsafat abad pertengahan karena filsafat telah di awali oleh Aresto dari Yunani. Dan fase setelah Islam merupakan perjalanan filsafat kontemporer.

Filsafat Islam Klasik vs Filsafat Islam Kontemporer

Kita ketahui bersama bahwasanya filsafat di bagi tiga periode, periode pertama yang merupakan awal munculnya filsafat yaitu berasal dari Yunani, karena di sana terdapat beberapa orang yang cenderung menggunakan otak sebagai landasan berpikir. Tokoh-tokohnya seperti Socrates, Plato dan Aresto.

Periode kedua yang merupakan masa pertengahan adalah filsafat Islam. Filsafat Islam klasik mulai berkembang pada masa al-Kindy pada tahun 1985, yang mana menurut Sulaiman Hasan bahwasanya tidak ada seorangpun filosof Islam kecuali al-Kindi, karena baginya ia merupakan seorang filosof pertama dalam Islam begitu juga merupakan filosof Arab pertama. Dalam pengembangan filsafatnya al-Kindi mengikuti falsafah Aresto. Hal itu bisa dibuktikan dari buku-buku filsafat yang dikarang oleh al-Kindi lebih banyak mengarah pada buku-buku karangan Aristoteles.[2] Al-Kindi merupakan seorang Aristotelian, ia mengartikan filsafat sebagai pola pikir manusia untuk lebih mengetahui dirinya, dari pengertian tersebut al-Kindi berusaha lebih “mengetahui dirinya sendiri” yang kemudian ia jadikan sebagai cara atau alat untuk lebih mengetahui hal-hal yang sifatnya lebih besar, misalnya tentang lingkungan sekitarnya tempat ia berdiam, adat istiadat, alam ciptaan yang mana karenanya manusia diciptakan. Dari semua itu al-Kindi semata-mata bertujuan untuk lebih mengetahui bahwasanya di balik semua ini ada dzat yang merupakan pencipta atau penggagas keseluruhan di muka bumi yaitu Allah SWT.[3]

Filsafat al-Kindi juga mengarah kepada al-Ilmu al-Insani Wa Ilmu al-Ilâhi, yang mana bagi al-Kindi filsafat merupakan segala upaya untuk menyerupai segala perbuatan Tuhan sesuai dengan batas kemampuan manusia. Sehingga dari pengertian tersebut al-Kindi mengatakan bahwa seorang filosof adalah sosok yang menjadikan kesempurnaan dan kemuliaan Tuhan sebagai contoh atau sandaran utama. Dengan demikian seorang filosof berusaha sekuat tenaga untuk menyerupai keutamaan dan keunggulan Tuhan sehingga pada akhirnya mereka menjadi manusia sempurna/supermen (manusia super).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa al-Kindi merupakan filosof yang mengatakan bahwa filsafat adalah larutan pewarna agama yang dengan demikian secara sekilas ada korelasi atau keterkaitan antara agama dan filsafat. Pola filsafat al-Kindi yang menyatukan antara agama dan filsafat, senada dengan filosof yunani yaittu Aresto.[4]

Al-Kindi dikatakan mengikuti aliran Aresto dikarenakan Aresto pernah mengatakan bahwa "keutamaan atau al-fadilah telah nampak atau ma'ruf(diketahui). Aresto mengatakan bahwa kita tercipta untuk melakukan kebenaran secara terus-menerus jika kita mengetahui kebenaran itu. Sehingga dalam pola pandang tersebut Aresto lebih memiliki kesamaan dengan para filosof terdahulunya (socrates dan plato) dari perpektif "kebaikan".[5]

Para ahli hukum Arab juga menyatakan bahwasanya al-Kindi juga termasuk seorang mutakallimin. Hal itu dikarenakan tujuan filsafat al-Kindi sebagai wasilah atau media untuk mengetahui alam metafisika yaitu sang pencipta. Yang mana hal itu senada dengan tujuan para mutakallimin yang membahas tentang wujud Tuhan dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya tersebut tentu menunjukkan pada keagungan dan keutamaan Tuhan.[6]

Selanjutnya yaitu al-Farabi yang merupakan al-Muallim al-Tsani yang mempunyai nama lengkap Abu Nasr al-Faraby. Al-farabi memaknai filsafat sebagai ilmu yang mengkaji tentang alam fisika sebagaimana keberadaannya. Ia juga mengatakan bahwa tujuan filsafat adalah untuk mengetahui Tuhan sebagai Dzat yang Esa dan tidak digerakkan dan Tuhan merupakan sebab utama bagi segala sesuatu. Filsafat al-Farabi sedikit banyak dipengaruhi oleh Aresto yang mana ia juga mengatakan bahwa adanya Tuhan adalah yang menggerakkan dan tidak digerakan, dalam hal ini filsafat al-Farabi lebih ditekankan pada disiplin ilmu filsafat (analisis filsafat).

Filosof ketiga dari filosof masa pertengahan adalah Ibnu Shina, yaitu sekitar tahun 370H, ia terkenal dengan sebutan "al-syeikh al-raîs". Ibnu Sina memaknai filsafat sebagai kreativitas pemikiran yang denganya manusia memperoleh berbagai pengetahun tentang dirinya. Sehingga dengan pengetahui dirinya tersebut manusia bisa menentukan segala amal perbuatan yang seharusnya ia lakukan untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang mulia, logis sesuai dengan alam fisika dan menyiapkan diri untuk meraih kebahagian di akhirat sesuai dengan batas kemapuan manusia. Dengan pengertian tersebut, maka Ibnu Sina adalah seorang filosof yang berusaha menyatukan antara analisa filsafat dan aplikasinya[7].
Setelah jauh membahas sejarah dan perkembangan filsafat Islam Klasik dari tiga filosof Arab yaitu al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Shina, maka selayaknya untuk melirik sekilas tentang perkembangan filsafat Islam kontemporer yang merupakan fase atau periode ketiga dari sejarah filsafat secara umum.

Filsafat Islam kontemporer tidak seperti filsafat Islam klasik, dikerenakan para pemikir tidak begitu intens dalam perkembangannya dan terlena dengan keilmuan yang lain, dikarenakan filsafat sudah berkembang dan Islam juga telah mencapai masa keemasan pada zaman al-Kindi dan seterusnya. Jadi para pemikir Islam merasa tidak perlu untuk melestarikan kembali apa yang pernah menjadi kegemilangannya kala itu. Adapun sebab lain dikarenakan filsafat Islam telah mengalami perluasan pembahasan rangkulan hingga menjadi 10 pembahasan. Dari pembahasan-pembahasan tersebut tidak bisa menspesifikasikan filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu atau pola pikir tersendiri.

Filsafat Islam kontemporer kurang lebihnya dimulai antara sebelum dan sesudah tahun baru Islam, hal tersebut diisyaratkan akan lahirnya pergerakan kelompok salafi di bawah naungan Abdullah Ibn Wahhab tahun(1703-1791) di sebuah daerah yang menyerupai daerah Arab, yang mana Aqidah Islamiyah menjadi alasan waktu itu bagi perkembangan filsafat Islam kontemporer yang mana daerah tersebut masih cukup marak akan adanya syirik dan penyembahan berhala disebabkan kebodohan yang menyelimuti. Dari sanalah berkembanglah pembaharuan disegala bidang termasuk juga bidang politik dan pembenahan ilmu tauhid di daerah tersebut.

Akan tetapi jika ditinjau dari sejarah Islam di masa sekarang, maka awal kembalinya filsafat Islam kontemporer yaitu ketika Prancis menyerbu Syam dan Mesir pada tahun(1798-1801), yang mana dari penyerbuan tersebut lahirlah masa yaitu al-marhalah as-Sâbiqah sekitar 500 tahun, yang mana kaum muslimin sudah mulai berkembang dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya secara menyeluruh. Dan selanjutnya al-Marhalah at-Tâliyah yaitu ketika perancis mengedakan penyerangan terhadap Syam dan Mesir, yang bisa di istimewakan dari marhalah tersebut adalah adanya sebuah pergerakan yang lahir dari rahimnya.[8]

Di samping pergerakan pembaharuan yang di prakarsai Abdullah ibn Wahhab dan penyerbuan Prancis ke Syam dan Misr yaitu dampak kebudayaan dari peperangan melawan Prancis. Dari dampak tersebut adalah lahirnya pergerakan Islam yang melawan pihak sekuler dan berupaya bertetap hati untuk kembali pada kebangkitan.

Sedangkan filsafat Islam kontemporer di Mesir dipengaruhi dengan datangnya Muhammad Abduh setelah menimba ilmu dari Sourbonne Unirversity di Prancis. Muhammad abduh merasa Barat di karenakan pada abad ke-sembilan masehi merupakan masa kegemilangan Barat. Abduh ingin mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Dan dia ingin menerapkan dan mengkaji filsafat dengan lebih intens. Di samping Abduh juga ada Rif’at al-Tahtawi yang dikenal sebagai pemimpin agama al-Imam al-Dini di awal pembebasan Mesir dan Perancis. Tahtawi yang dikenal begitu menguasai bahasa Prancis maka dari sana dia menganggap akan pentingnya penerjamahan bahasa perancis ke dalam bahasa Arab, hal ini bukan hanya tertuju pada buku-buku Filsafat akan tetapi dalam segala bidang, hanya penekanannya lebih pada filsafat.

Di samping mereka juga ada Ali Mubarak sekalipun ia sendiri lebih dikenal sebagai peletak ilmu politik daripada filsafat itu sendiri. Buku karangannya yang terkenal( al-Khutut at-Taufîqiyah, riwâyah ilmu al-Dîn) yang kemudian dijadikan rujukan dalam bidangnya.

Banyak hal yang dilakukan para pemikir Islam untuk menjayakan kembali filsafat dan dijadikan sebagai ilmu yang bebas dipelajari siapapun, adapun cara-cara mereka yaitu dengan menterjemahkan buku bahasa asing ke dalam bahasa Arab, mengkaji kembali turots-turots yang sempat ditinggalkan, memperbanyak mencetak buku-buku yang berhubungan dengan filsafat, memasukkan ke dalam sekolah-sekolah sebagai mata pelajaran yang sama seperti materi yang lain. Banyak hal yang di lakukan pemikir kita untuk kembali menjayakan filsafat Islam seperti pada masa keemasannya.[9]

Jika tadi Muhammad Abduh dan Rif’at Tahtawi mengambil filsafat dari Barat, berbeda dengan Mustafa Abdur Razik Dan Muhammad Iqbal yang mengembalikan filsafat Islam ke masa sekarang dengan menekankan pada perbedaan antara “Tamhid wa Tajdid” apa perbedaan mendasar antara dua hal tersebut?

Mustofa Abdur Raziq berpendapat bahwasanya filsafat Islam yang ada sekarang yang mana lebih dikenal dengn istilah kontemporer merupakan Tamhid, hal tersebut dikarenakan kita mengawali kembali sejarah filsafat Islam disebabkan adanya pertentangan antara islam dan Barat, jika Barat lebih menitikberatkan pemikirannya pada al-Aqlu yang mendominasi setiap langkah perjalanan dan pemikiran mereka, akan tetapi Islam menurut Abdur Raziq lebih ditekankan pada agama yang merupakan petunjuk bagi umatnya.

Berbeda dengan Muhammad Ikbal, bahwasanya pengembalian filsafat Islam kontemporer lebih pada Al-tajdid, hal ini dikerenakan mulai dari awal perkembangannya para pemikir tidak pernah setuju untuk merealisasikan kembali filsafat, oleh karenanya bagi Iqbal ini adalah Tajdid karena adanya filsafat Islam kontemporer adalah pembenahan atau perubahan dari filsafat sebelumnya. Sebagaimana dalam bukunya yang diterjemah oleh Ust. Abbas Mahmud 1955, judulnya Tajdîdu al-Tafkîr al-Dîni fî al-islam(Reconstruction of Relgious Thought in Islam)[10]

Epilog

Begitulah gambaran sekilas tentang filsafat Islam, sebenarnya pembahasan filsafat sangatlah panjang, dikarenakan perjalan kita terbatas oleh ruang dan waktu mungkin hanya sekelumit yang penulis hidangkan kali ini, insyaAllah di lain kesempatan bisa berbagi kembali. Dalam membahas filsafat Islam sepertinya membutuhkan beberapa fase agar lebih lengkap dan luas. Hanya lantunan doa-doa tulus yang terangkai lewat gesekan tasbih semoga apa yang disampaikan bisa membawa manfaat bagi siapapun dimanapun berada. Tiada lantunan kata suci selain terimakasih pada-Nya karena telah menjadikan hambanya mampu menjalankan apapun. Akhirnya, inilah saya apa adanya. Thanks for everythink.




Nurul Fajariyah Abbasi
Islamic Law Faculty of al-Azhar University


[1] Lihat: Imam Ibrahim ibn Ibrahim ibn Hasan Al-Laqani Arjûzah Jauhâratu Al-Tauhid, maktabah Darussaadah Cairo, hal 127. tt
[2] Lihat: Dr. Muhammad Luthfi Jumah Târîkh Falâsifah Islam, maktabah Âlimul Kutub Cairo, tahun 1999, hal: 2&7.
[3] Lihat: Dr. Ali Mu'abbid Furghali, Dr., Abdul Maqsud Hamid Abdul Maqsud, dirâsât fî al-falsafah al-'âmah, tanpa tahun, hal: 85-86. tt
[4] Lihat: Dr. Hasan Hanafi, Min Al-Naqli Ila Al-Ibdâ’, Dâru Qubâ Cairo, tahun 2001, hal: 283.
[5] Lihat: S. M., Bawra, diterjemah Muhammad Ali zaid dkk, al-Adab al-yûnânî al-Qadîm Dar al-Misr al-Qâhirah, ttn, hal. 118
[6]Lihat: Dr. Muhammad Luthfi Jumah, op cit, hal: 15
[7]Lihat: Dr. Ali Mu'abbid Furghali, Dr. Abdul Maqsud Hamid Abdul Maqsud, op cit, hal: 86-87
[8] Lihat: Dr. Hamid Thahir, Al-Falsafatul Islâmiyah fi Al-Ashri Al-Hadîst, Nahdlah Misr, cet. 1 Oktober tahun 2005, hal: 14-16
[9] Ibid, hal: 24
[10] Ibid, hal: 41-42

Blognya Ria Dunia Ria | Tanks To Blogger